SUMATERA, MPN — Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat terus menyisakan duka mendalam. Puluhan warga dilaporkan meninggal dunia, ribuan rumah rusak, dan kerugian infrastruktur diperkirakan mencapai triliunan rupiah.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Namun, perhatian publik kini mulai tertuju pada dugaan kuat bahwa bencana ini tidak hanya dipicu oleh intensitas hujan ekstrem, melainkan juga kerusakan ekologis parah di kawasan hulu sungai.

Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) bersama aparat penegak hukum telah membuka penyelidikan terkait indikasi pembalakan liar skala besar. Temuan gelondongan kayu yang terseret arus deras—bahkan menimbun permukiman di Kabupaten Agam (Sumbar) dan Deli Serdang (Sumut)—semakin memperkuat dugaan tersebut.

“Tim khusus telah kami turunkan untuk mencocokkan citra satelit terbaru dengan data kawasan lindung. Bila ditemukan alih fungsi lahan atau praktik illegal logging yang terorganisir, kami akan tindak tegas hingga ke akar masalah,” kata juru bicara KLH.

Sementara itu, Presiden melakukan kunjungan mendadak ke sejumlah lokasi terdampak. Dalam arahannya, ia menegaskan bahwa rehabilitasi lingkungan secara menyeluruh menjadi langkah wajib setelah fase tanggap darurat rampung.

Upaya evakuasi dan penyaluran bantuan masih berlangsung intensif. Akses jalan yang rusak parah membuat beberapa desa terisolasi, memaksa tim gabungan menyalurkan logistik melalui udara menggunakan helikopter. (Red)