Sumber informasi yang kedua diperoleh dari UNICEF Indonesia tahun 2024, yaitu dimana anakanak di Papua menghadapi risiko kekerasan, eksploitasi, dan masalah kesehatan mental yang lebih besar sejak pandemi COVID-19. Angka prevalansi perkawinan anak melonjak dari 11,52% pada tahun 2018menjadi 13,21% pada tahun 2021. Kasus-kasus kekerasan terhadap anak pun meningkat, khususnya kekerasan seksual, sebagai alternatif solusinya adalah seperti contoh yang dilakukan pihak UNICEF yakni kegiatan lingkar remaja. Kegiatan Lingkar Remaja membawa pendekatan inovatif untuk membantu remaja dalam menghadapi masa-masa sulit, dan mengembangkan perangkat Helping Adolescents Thrive dari UNICEF-WHO. Melalui Kerjasama dengan Z Zurich Foundation, UNICEF menguji coba pendekatan baru untuk mempromosikan Kesehatan mental dan mencegah masalah Kesehatan mental di kalangan remaja. Dalam kegiatan Lingkar Remaja, mereka dibekali kemampuan untuk menghadapi situasi sarat stres, membangun hubungan yang sehat, mempelajari keterampilan baru dan berinteraksi positif dengan lingkungan di sekitarnya.
Data ketiga diambil dari TribunSorong.com 26 Februari 2024, Dinas Kesehatan Kota Sorong mencatat jumlah anak usia sekolah hingga remaja yang terdeteksi positif terpapar penyakit HIV mencapai 315 kasus. Ketua Bidang P2P, Jenny Isir mengatakan jumlah saat ini data anak usia 15 hingga 19 tahun di Kota Sorong ada 219 kasus yang menyebar di 10 Distrik di Kota Sorong, Papua Barat Daya terpapar HIV karena pola atau cara pergaulannya yang bebas. Kasus ini telah masuk dalam prevalensi tinggi, yakni 2,3 persen. Bahkan sangat berbahaya karena anak yang positif HIV di Kota Sorong juga didapati anak laki-laki ada juga yang berhubungan sejenis, sebagai alternatif solusinya adalah memberikan pemahaman tentang pengenalan organ reproduksi , kesehatan reproduksi, bahaya HIV dan AIDS, narkoba hingga seks bebas dan edukasi kepada anak-anak untuk memproteksi diri lebih awal.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Halaman:
1 2 3