SORONG, MPN – Benang merah di balik rangkaian kekerasan yang mencekam Distrik Bamusbama, Kabupaten Tambrauw, akhirnya mulai terurai. Polda Papua Barat Daya kini resmi memburu 19 orang yang masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). Mereka diduga kuat terlibat dalam rentetan aksi kriminal, mulai dari pembakaran kantor distrik hingga kasus pembunuhan yang merenggut nyawa warga dan tenaga kesehatan.

Penetapan para DPO tersebut merupakan hasil pengembangan dari sejumlah laporan polisi yang ditangani Polres Tambrauw, yakni kasus perusakan dan pembakaran Kantor Distrik Bamusbama pada 2 Desember 2024, serta dua kasus kekerasan yang berujung kematian pada 8 dan 16 Maret 2026.

Peristiwa ini berawal dari aksi perusakan dan pembakaran Kantor Distrik Bamusbama yang terjadi pada akhir 2024. Insiden itu menjadi awal terganggunya situasi keamanan di wilayah tersebut.

Memasuki Maret 2026, eskalasi kekerasan kembali terjadi. Pada 8 Maret 2026, terjadi peristiwa pembunuhan terhadap seorang warga sipil. Selang beberapa hari kemudian, pada 16 Maret 2026, aksi kekerasan kembali pecah di lokasi yang sama dan mengakibatkan dua tenaga kesehatan meninggal dunia.

Dalam penanganan kasus tersebut, kepolisian menetapkan sembilan orang sebagai DPO dalam kasus pembakaran kantor distrik. Sementara itu, lima orang masuk dalam DPO pada kasus pembunuhan 8 Maret 2026, dan delapan orang lainnya dalam kasus pembunuhan 16 Maret 2026.

Beberapa nama tercatat muncul dalam lebih dari satu kasus, sehingga total individu yang masuk dalam daftar pencarian orang berjumlah 19 orang.

Selain itu, dalam perkembangan sebelumnya, empat orang tersangka terkait kasus pembunuhan telah menyerahkan diri dan saat ini menjalani proses hukum di Rumah Tahanan Polres Kabupaten Sorong.

Di sisi lain, aparat kepolisian juga meningkatkan pengamanan di wilayah Kabupaten Tambrauw guna menjaga situasi tetap kondusif pascakejadian. Ratusan personel Brimob dikerahkan untuk melakukan patroli serta pengamanan di sejumlah titik rawan.

Pendekatan persuasif juga dilakukan kepada masyarakat terdampak, termasuk upaya pemulihan psikologis bagi warga serta ajakan untuk kembali beraktivitas secara normal.

Kepolisian mengimbau masyarakat untuk tetap tenang serta tidak terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi. Warga yang mengetahui keberadaan para DPO juga diminta untuk segera melaporkannya kepada pihak berwenang.

Hingga berita ini diturunkan, pendalaman kasus masih bergulir. Aparat berkomitmen untuk tidak menyisakan celah dalam mengungkap siapa saja yang terlibat dalam aksi berdarah tersebut. (Mel)