SORONG SELATAN, MPN – Upaya memperkuat infrastruktur perikanan sekaligus mengoptimalkan potensi udang banana di kawasan pesisir Papua Barat Daya terus dipacu. Langkah ini ditandai dengan dimulainya pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Kampung Wamargege, Distrik Konda, Kabupaten Sorong Selatan.
Peletakan batu pertama proyek strategis ini telah dilakukan oleh Bupati Sorong Selatan Petronela Krenak, Wakil Bupati Yohan Bodori, beserta jajaran Forkopimda pada 12 Juli 2026 lalu. Program dari pemerintah pusat tersebut hadir untuk memfasilitasi aktivitas melaut masyarakat lokal lewat penyediaan sarana perikanan yang representatif.
Wakil Bupati Sorong Selatan, Yohan Bodori, memberikan apresiasi besar terhadap intervensi data pembangunan ini. Melansir pemberitaan RRI (21 Juli 2026), Yohan menegaskan bahwa kekayaan laut di wilayahnya sangat berlimpah, mulai dari ikan, kepiting, hingga udang banana yang menjadi komoditas unggulan komersial.
Menjawab Tantangan Fluktuasi Musim
Udang banana selama ini menjadi urat nadi perekonomian bagi warga Kampung Wamargege dan Kampung Konda. Merujuk riset yang dirilis TelusuRI pada 6 Januari 2025, komoditas udang banana mendominasi sekitar 50 hingga 70 persen dari total volume hasil tangkapan nelayan di kedua kampung tersebut.
Meski melimpah, aktivitas tangkapan ini sangat dipengaruhi oleh siklus musiman. Masa panen puncak biasanya terjadi dua kali dalam setahun, yakni pada periode Maret–Mei dan Oktober–Desember. Saat pasokan melonjak, tantangan terbesar nelayan adalah menjaga kualitas mutu agar nilai tawar produk tidak anjlok di pasar.
Oleh karena itu, kehadiran KNMP Wamargege dirancang untuk menjembatani tata kelola pascapanen ini. Infrastruktur yang dibangun akan difokuskan pada pemenuhan kebutuhan riil di lapangan, mulai dari teknik penanganan awal, sistem penyimpanan, hingga akses distribusi logistik ke para pembeli (buyer).
Urgensi Rantai Dingin (Cold Chain) dan Tata Kelola Koperasi
Salah satu fasilitas krusial yang wajib ada di kawasan KNMP adalah sistem rantai dingin (cold chain). Mengingat udang merupakan komoditas yang cepat rusak (perishable goods), kontrol suhu yang higienis dari atas kapal hingga ke darat menjadi kunci utama mempertahankan kesegaran produk. Namun, operasional fasilitas pendingin ini memerlukan pasokan energi yang stabil, biaya perawatan berkala, serta kesiapan sumber daya manusia (SDM) yang terampil.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengingatkan agar aset negara tersebut dikelola secara profesional melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Dalam pembekalan pengurus pada 5 Juli 2026, Plt. Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP, Machmud, menekankan bahwa tugas utama pengurus adalah memutar aset tersebut agar menghasilkan profit yang merata bagi seluruh anggota.
Dorong Hilirisasi dan Jaga Ekosistem Mangrove
Keberadaan KNMP tidak hanya mematangkan sektor hulu, tetapi juga membuka keran bisnis baru di sektor hilir. Peluang usaha komplementer seperti pengolahan udang, perdagangan alat tangkap, kuliner pesisir, hingga pemanfaatan limbah kepala udang menjadi produk kaldu bubuk—sebagaimana inisiatif lokal yang pernah diulas TelusuRI—berpotensi besar untuk dikembangkan secara masif.
Kendati menawarkan prospek ekonomi yang cerah, keberlanjutan proyek ini menuntut adanya transparansi tata kelola dan pelibatan aktif masyarakat adat setempat. Di sisi lain, ekspansi ekonomi perikanan di Distrik Konda wajib berjalan selaras dengan konservasi lingkungan. Kelestarian hutan mangrove di sekitar Wamargege harus tetap dijaga ketat sebagai habitat alami pembibitan udang banana.
Keberhasilan KNMP Wamargege pada akhirnya tidak akan diukur dari megahnya bangunan fisik yang berdiri, melainkan dari seberapa besar dampak nyata yang dirasakan nelayan dalam meningkatkan taraf hidup mereka secara berkelanjutan.
(Mel)




























