MANOKWARI, MPN – Sebanyak 1.370 unit kapal nelayan berbahan fiber berkapasitas 5 gross tonnage (GT) tengah diproduksi di galangan PT Satya Merah Putih dan Layar Bulaeng Maritim, Kabupaten Manokwari, Papua Barat. Proyek ini ditargetkan untuk memperkuat armada nelayan dalam program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP), sekaligus membuka kesempatan kerja dan transfer keterampilan bagi tenaga kerja lokal.
Pimpinan galangan, Yehezkel Wororomi, mengungkapkan bahwa pengerjaan kapal telah berjalan sekitar satu minggu saat wawancara dilakukan. Hingga saat ini, sebanyak 20 unit kapal dinyatakan telah siap, sementara target pengerjaan berikutnya mencapai 25 unit.
Pihak galangan menargetkan penyelesaian seluruh pesanan dalam waktu efektif sekitar 50 hingga 59 hari, dengan tenggat akhir pada November 2026. Target tersebut menjadi tahapan krusial dalam penyiapan armada sebelum kapal disalurkan ke lokasi penerima. Namun, jumlah kapal yang selesai diproduksi, siap dikirim, dan telah diterima nelayan merupakan tahapan berbeda yang perlu dipantau secara terpisah.
Spesifikasi dan Kelayakan Teknis Kapal
Dari sisi spesifikasi, kapal fiber ini dirancang dengan panjang keseluruhan 11 meter, lebar 1,25 meter, dan tinggi 80 sentimeter. Untuk menunjang operasional, kapal dilengkapi dengan dua mesin yang masing-masing berdaya 15 PK, serta fasilitas cool box untuk menyimpan ikan dan es selama aktivitas penangkapan.
Menurut keterangan Yehezkel, material kapal yang digunakan telah mengantongi sertifikasi dari Biro Klasifikasi Indonesia (BKI). Ia juga mengestimasi masa pakai kapal dapat melebihi 20 tahun dengan garansi selama satu tahun. Informasi dari pihak galangan tersebut tetap perlu diselaraskan dengan dokumen sertifikasi, spesifikasi teknis, ketentuan garansi, serta hasil pemeriksaan kelayakan kapal.
Kapal dengan dua mesin dan ruang penyimpanan ikan ini berpotensi mendukung operasional nelayan. Meski demikian, kemampuan menjangkau lokasi penangkapan yang lebih jauh tidak hanya ditentukan oleh ukuran kapal dan daya mesin, melainkan juga dipengaruhi kondisi perairan, cuaca, kapasitas muatan, kompetensi awak, serta kelengkapan keselamatan.
Libatkan Tenaga Kerja Lintas Daerah
Selain memperkuat armada perikanan, aktivitas produksi di Manokwari ini melibatkan tenaga kerja dari berbagai daerah. Yehezkel menyebutkan, sekitar 140 tenaga kerja dari luar Papua, termasuk dari Bau-Bau dan Ambon, dilibatkan untuk bekerja bersama pekerja lokal.
Proyek ini menjadi kesempatan bagi putra Papua untuk mempelajari teknik pembuatan kapal berbahan fiber. Sebagian pekerja lokal yang sebelumnya belum mengenal pengolahan material fiber mendapatkan pembinaan langsung selama proses pengerjaan. Pengalaman ini berpotensi menjadi bekal keterampilan untuk berkarier di industri perkapalan, walaupun penguasaan kompetensi tetap membutuhkan pelatihan dan pengalaman lanjutan.
Penguatan keterampilan ini sejalan dengan atensi pemerintah terhadap kebutuhan sumber daya manusia (SDM) di sektor perikanan. Melalui siaran pers pada 12 Mei 2026, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menjelaskan bahwa modernisasi armada diarahkan tidak hanya untuk membangun fisik kapal, tetapi juga memperkuat industri galangan dan menyiapkan awak kapal yang cakap.
Direktur Jenderal Perikanan Tangkap KKP, Lotharia Latif, menekankan pentingnya pemenuhan aspek teknis dalam pembangunan kapal.
“Membangun kapal harus benar-benar memenuhi aspek teknis dan pelaksanaan yang profesional dan memenuhi standar pembangunan yang baik dan tersertifikasi,” tegas Lotharia Latif dalam pemberitaan resmi KKP.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kualitas konstruksi dan kelengkapan kapal harus dipastikan dengan baik sebelum digunakan. Dalam pelaksanaannya, pemeriksaan teknis, pemenuhan syarat keselamatan, serta perawatan rutin pada mesin dan badan kapal harus menjadi bagian dari kesiapan total armada.
Distribusi Menunggu Instruksi Resmi
Terkait penyaluran, Yehezkel menjelaskan bahwa kapal yang selesai diproduksi akan ditampung terlebih dahulu di galangan Manokwari. Distribusi ke titik-titik KNMP baru akan berjalan setelah adanya instruksi pembagian resmi.
Mekanisme ini membuat koordinasi antara penyelesaian produksi, penentuan lokasi sasaran, dan kesiapan nelayan menjadi poin penting dalam keberhasilan program. Data mengenai jumlah kapal yang selesai, hasil pemeriksaan teknis, jadwal pengiriman, hingga penerimaan di lokasi tujuan akan sangat diperlukan untuk memantau realisasi program secara transparan.
Berdasarkan pengalamannya sebagai nelayan sejak tahun 2000, Yehezkel menilai penggunaan kapal berukuran lebih besar dengan dua mesin berpotensi membantu nelayan menjangkau wilayah penangkapan yang lebih jauh dibanding perahu kecil. Namun, pemanfaatan kapal harus tetap disesuaikan dengan karakteristik perairan dan kapasitas awak agar aspek keselamatan tidak terabaikan.
Kesiapan armada ini juga menuntut kemampuan nelayan dalam mengoperasikan mesin, menjaga kualitas tangkapan lewat penyimpanan yang tepat, serta melakukan perawatan berkala. Penyediaan kapal tidak berhenti pada penyelesaian konstruksi, melainkan harus terintegrasi dengan kesiapan nelayan dan tata kelola pemanfaatannya.
Produksi 1.370 kapal fiber di Manokwari ini diharapkan menjadi bagian penting dari penguatan sarana usaha perikanan di kawasan KNMP. Keberhasilan akhir dari program ini akan ditentukan oleh ketepatan waktu produksi, kualitas kelayakan kapal, distribusi yang tepat sasaran, serta kemampuan nelayan dalam memanfaatkan armada secara aman dan berkelanjutan.
(Mel)





























