SUPIORI, MPN – Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Kampung Doubo, Distrik Supiori Timur, Kabupaten Supiori, Papua, terus dikejar. Proyek ini diarahkan untuk memperkuat sarana perikanan sekaligus membangun rantai usaha yang lebih terhubung dari nelayan hingga ke pasar regional maupun nasional.

Pengembangan kawasan ini menjadi jawaban atas tantangan ekonomi perikanan di wilayah kepulauan, terutama terkait akses pasar dan tingginya biaya distribusi. Kehadiran KNMP Doubo diharapkan dapat mempermudah proses penanganan, penyimpanan, dan pemasaran hasil tangkapan agar jauh lebih efisien.

Secara nasional, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menempatkan KNMP sebagai pilar penguatan ekonomi masyarakat pesisir. Program ini dirancang untuk mengintegrasikan kegiatan usaha perikanan dari hulu hingga hilir. Khusus tahun 2026, pembangunan KNMP direncanakan tersebar di 1.269 lokasi di seluruh Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menyatakan bahwa pemerintah mempercepat program-program prioritas ini untuk menekan kerugian nelayan akibat keterbatasan fasilitas.

“Maka, program-program yang prioritas dipercepat, antara lain, pembangunan kampung nelayan yang akan dibangun 5.000 sampai akhir 2029 ini,” kata Zulkifli dalam rapat koordinasi di Jakarta (15/9/2026).

Menurut Zulkifli, konsep KNMP mencakup penyediaan fasilitas terintegrasi dalam satu ekosistem, seperti tempat pelelangan ikan (TPI), akses kapal, cold storage (gudang pendingin), bengkel, pabrik es, hingga stasiun pengisian bahan bakar nelayan (SPBN). Keterhubungan fasilitas ini krusial bagi nelayan Doubo agar kualitas komoditas tetap terjaga sebelum didistribusikan.

Pendekatan Kluster dan Pelibatan Masyarakat

Dalam pelaksanaannya, KKP mengembangkan konsep KNMP melalui pendekatan kluster. Konsep ini membagi wilayah menjadi KNMP Hub sebagai pusat konsolidasi dan pengolahan hasil perikanan, serta KNMP Penyangga yang berfungsi sebagai lokasi pengumpulan awal hasil tangkapan.

Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, optimistis target pembangunan fisik dapat selesai tepat waktu karena durasi pengerjaan yang relatif singkat.

“Ya kita usahakan, kita masih punya waktu. Kita akan hitung. Satu pembangunan itu kan kira-kira sekitar butuh waktu tiga bulan,” ujar Trenggono (16/9/2026). Akselerasi ini merupakan bagian dari target jangka panjang pembangunan 5.000 KNMP hingga akhir tahun 2029.

Untuk memastikan keberlanjutan program, KKP menerapkan pendekatan bottom-up dengan melibatkan masyarakat adat, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan sejak tahap perencanaan. Asesmen lokasi dilakukan secara menyeluruh, mencakup aspek sosial ekonomi, aktivitas perikanan, infrastruktur pendukung, komitmen pemda, hingga mitigasi risiko bencana.

Namun, keberadaan infrastruktur baru ini tidak secara otomatis menentukan harga pasar, karena nilai komoditas tetap dipengaruhi oleh hukum permintaan, pasokan, kualitas, dan faktor musim. Pembangunan fisik KNMP Doubo menjadi langkah awal yang penting, namun keberhasilan akhirnya akan sangat bergantung pada tata kelola kelembagaan ekonomi lokal, pengelolaan rantai dingin, serta keterbukaan informasi operasional agar fasilitas ini dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

(Red)