SORONG, MPN – Pemerintah Kabupaten Sorong terus mematangkan langkah strategis untuk mempercepat eliminasi malaria, terutama di kawasan transmigrasi dan sekitarnya. Wakil Bupati Sorong, H. Sutejo, menegaskan bahwa penanganan penyakit ini memerlukan sinergi kuat lintas sektor, mulai dari pemerintah, tenaga medis, akademisi, hingga partisipasi aktif masyarakat.
Penegasan tersebut disampaikan Wabup Sutejo saat membuka Focus Group Discussion (FGD) percepatan eliminasi malaria di Aula Bapperida Kabupaten Sorong pada Senin, 2 November 2026, pukul 09.00 WIT.
Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai pihak terkait, meliputi Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 15 Universitas Brawijaya, Kementerian Transmigrasi, Kementerian Kesehatan RI, Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat Daya, dan Dinas Kesehatan Kabupaten Sorong. Hadir pula perwakilan Balai Kekarantinaan Kesehatan Sorong, pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), kepala distrik, kepala puskesmas, serta para tenaga medis.
Dalam sambutannya, Sutejo mengapresiasi kolaborasi antara Tim Ekspedisi Patriot 15 Universitas Brawijaya, Kementerian Transmigrasi, dan Dinas Kesehatan Kabupaten Sorong. Kerja sama ini dinilai krusial dalam mendukung pengendalian wabah secara berkelanjutan.
FGD ini digelar sebagai tindak lanjut dari kegiatan skrining malaria yang telah dilaksanakan pada Agustus hingga September 2026 lalu di kawasan transmigrasi. Melalui skrining tersebut, tim di lapangan berhasil memetakan gambaran kondisi malaria serta mengidentifikasi faktor risiko penyebaran penyakit di masyarakat.
Wabup Sutejo mengingatkan bahwa malaria bukan sekadar masalah kesehatan masyarakat, melainkan tantangan serius yang berdampak langsung pada produktivitas, aktivitas ekonomi, dan kualitas hidup warga. Oleh karena itu, percepatan eliminasi tidak bisa hanya dibebankan kepada sektor kesehatan pemerintah saja.
Melalui forum diskusi ini, seluruh peserta diharapkan dapat memaparkan temuan lapangan secara terbuka dan merumuskan langkah tindak lanjut yang terukur. Sutejo secara khusus meminta agar data hasil skrining Agustus-September lalu tidak hanya berakhir menjadi laporan di atas meja. Data tersebut harus dijadikan landasan utama dalam menyusun kebijakan dan menentukan strategi intervensi di lapangan.
Selain pemanfaatan data, beberapa poin penting yang didorong dalam pertemuan tersebut meliputi:
- Edukasi intensif kepada masyarakat mengenai pencegahan malaria.
- Peningkatan kesadaran untuk menjaga kebersihan lingkungan secara mandiri.
- Pemberantasan sarang nyamuk secara berkala di pemukiman warga.
- Deteksi dini dan pengobatan yang tepat serta tuntas bagi pasien.
Sutejo menekankan bahwa langkah pencegahan ini harus berjalan konsisten agar efektivitas eliminasi malaria dapat menjangkau wilayah pelosok yang membutuhkan perhatian khusus. Di akhir sambutannya saat membuka acara secara resmi, ia mengajak seluruh elemen termasuk pemerintah distrik dan kampung untuk menjadikan FGD ini sebagai momentum memperkuat komitmen bersama menuju Kabupaten Sorong yang sehat, produktif, dan bebas malaria.
(Mel)




























