RAJA AMPAT, MPN – Program pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Warmasen di Distrik Kota Waisai, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya, kini memasuki babak baru. Pemerintah menekankan bahwa kesuksesan proyek percontohan ini tidak lagi diukur dari megahnya infrastruktur fisik yang berdiri, melainkan dari seberapa besar asas kemanfaatan dan keterlibatan aktif masyarakat nelayan setempat dalam mengelolanya.
Keterlibatan komunitas lokal dinilai krusial lantaran merekalah yang paling memahami dinamika dan kendala riil di lapangan mulai dari pemenuhan armada laut, ketersediaan es batu, ruang penyimpanan higienis, hingga akses bahan bakar. Melalui pendekatan ini, KNMP Warmasen diharapkan mampu bertransformasi menjadi motor penggerak ekosistem ekonomi pesisir yang tumbuh secara mandiri.
Sebagai informasi, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah merampungkan 65 titik KNMP pada fase pertama di penjuru tanah air, di mana kawasan Warmasen terpilih sebagai salah satu lokasi strategisnya.
Sejumlah infrastruktur modern telah disiapkan di kawasan ini, meliputi pabrik es (ice-making plant), gudang beku (cold storage), shelter docking (perbengkelan kapal), serta kios perbekalan melaut. Seluruh fasilitas tersebut dirancang untuk menjaga kualitas mutu hasil tangkapan sekaligus mendongkrak produktivitas nelayan.
Saat meninjau langsung KNMP Warmasen pada 22 April 2026 lalu, Wakil Presiden Gibran Rakabuming menegaskan pentingnya pengawasan agar program strategis presiden ini berjalan optimal.
“Tujuan utama kunjungan ini adalah memastikan program-program dari Bapak Presiden berjalan dengan baik di lapangan,” ungkap Wapres Gibran mengutip siaran resmi Sekretariat Wakil Presiden.
Pemerintah pun mengakui masih ada beberapa fasilitas penunjang yang harus dilengkapi. KNMP Warmasen sendiri diproyeksikan sebagai proyek percontohan nasional.
“Ini sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, tetapi masih banyak yang perlu ditingkatkan. Kita mulai dari sini sebagai pilot project. Jika berhasil, akan kita replikasi ke daerah lain,” tambah Gibran.
Dalam kesempatan dialog interaktif bersama Wapres, Ketua Koperasi Nelayan setempat, Syafuddin Wailata, menyuarakan tantangan riil yang dihadapi para pelaut Raja Ampat, khususnya terkait minimnya armada modern.
“Kami para nelayan ini selalu berharap pada hasil tangkapan, Pak. Namun ini nilainya banyak Pak, tapi kita punya kapal-kapal untuk kapal atau perahu atau bodi ini kan masih banyak yang kurang,” kata Syafuddin.
Selain armada, Syafuddin juga mengusulkan pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) terpadu di sekitar area KNMP guna memangkas biaya operasional solar.
Merespons hal tersebut, Wapres Gibran meminta pihak koperasi segera menyusun proposal kebutuhan secara riil berdasarkan data konkret, bukan sekadar prediksi kasar.
“Dihitung detail kebutuhan anggota-anggota koperasinya seperti apa, nanti kita bantu. Tapi jangan pakai estimasi. Nggak boleh kira-kira, harus dihitung,” tegas Wapres.
Kehadiran pabrik es dan cold storage tidak serta-merta menjamin kesejahteraan tanpa adanya manajemen tata kelola yang sehat. Oleh sebab itu, penempatan koperasi dan masyarakat nelayan sebagai subjek pengelola bukan sekadar penonton atau penerima bantuan pasif menjadi kunci utama.
Di sisi lain, karakter wilayah Raja Ampat yang sarat akan nilai adat menuntut pelibatan aktif para tokoh adat dan tokoh masyarakat setempat. Langkah ini penting untuk menyelaraskan roda ekonomi modern dengan komitmen menjaga kelestarian lingkungan laut (blue economy) Raja Ampat yang mendunia.
Semangat gotong royong di KNMP Warmasen kini diarahkan pada perumusan regulasi bersama, pemeliharaan aset, dan optimalisasi rantai pasok. Ke depan, kawasan ini didorong untuk mengadopsi teknologi energi surya (solar panel) serta hilirisasi industri lewat pabrik pengalengan ikan guna meningkatkan nilai tambah produk lokal.
Guna memastikan fase transisi dan operasional ini berjalan mulus tanpa kendala administratif, pemerintah juga telah membentuk Satuan Tugas Operasionalisasi KNMP melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 20 Tahun 2026.
(Mel)




























