SORONG, MPN – Ancaman kekeringan akibat fenomena iklim El Niño menjadi perhatian serius dalam menjaga ketahanan air dan pangan di Provinsi Papua Barat Daya. Kepala Bidang Pertanian Dinas Pertanian Provinsi Papua Barat Daya, Abner Basna, SIP., M.Si., menyiapkan sejumlah langkah mitigasi strategis, mulai dari penyesuaian kalender tanam, pengelolaan sumber daya air, hingga penguatan pendampingan intensif kepada para petani di wilayah terdampak.
Saat ditemui langsung di ruang kerjanya, Abner menjelaskan bahwa penurunan curah hujan dan musim kemarau yang berkepanjangan berpotensi besar mengganggu keberlangsungan usaha tani. Kondisi tersebut kini mulai dirasakan di Kabupaten Maybrat dan Tambrauw, serta sejumlah wilayah lainnya di Papua Barat Daya. Keterbatasan air dapat mengakibatkan tertundanya penanaman, gagal tanam, hingga gagal panen yang berdampak langsung pada penurunan produksi pangan masyarakat.
“Kekeringan ini berpotensi memicu gagal tanam, gagal panen, dan penurunan produksi. Jika musim kering ini semakin panjang, konsekuensinya bisa terjadi kelangkaan pangan hingga kelaparan. Karena mau tanam di mana kalau semua tanah kering dan tidak ada air? Ini hal yang sangat serius dan menjadi ancaman nyata,” ujar Abner di ruang kerjanya.
Kalender Tanam Bergeser, Petani Harus Beradaptasi
Salah satu strategi utama yang menjadi fokus perhatian Abner adalah menyesuaikan kalender tanam dengan kondisi cuaca dan ketersediaan air di lapangan. Rencana penanaman yang sebelumnya dijadwalkan pada Juni dan Juli terpaksa mengalami pergeseran akibat datangnya musim kemarau yang ekstrem.
Menurut Abner, petani tidak bisa memaksakan penanaman apabila ketersediaan air belum mencukupi karena berisiko tinggi menghambat pertumbuhan tanaman dan meningkatkan kerugian finansial. Penentuan ulang kalender tanam baru akan disusun kembali dengan mempertimbangkan karakteristik, kondisi lahan, serta pola cuaca spesifik di masing-masing kabupaten.
Pengelolaan Air dan Optimalisasi Sagu
Selain menggeser waktu tanam, Dinas Pertanian memprioritaskan pengelolaan sumber daya air secara efektif dan efisien melalui beberapa langkah taktis:
- Infrastruktur Air: Pemeliharaan jaringan irigasi dan pembangunan tempat penampungan air (embung).
- Konservasi Lahan: Penerapan teknik konservasi air yang disesuaikan dengan kondisi tanah setempat.
- Pendampingan Penyuluh: Menginstruksikan penyuluh pertanian untuk turun langsung memberikan edukasi mengenai teknik budidaya adaptif dan pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) saat krisis air.
Di sisi lain, Abner juga menekankan pentingnya penguatan komoditas pangan lokal seperti sagu sebagai bagian dari strategi diversifikasi pangan. Langkah ini diambil guna memperluas pilihan sumber pangan alternatif sehingga masyarakat tidak hanya bergantung pada satu jenis komoditas utama ketika produksi pertanian reguler terganggu oleh iklim.
Penanganan Darurat dan Kolaborasi Pemangku Kepentingan
Untuk memastikan mitigasi berjalan terukur, Abner menyiapkan mekanisme pelaporan dampak kekeringan secara akurat. Penyiapan data luasan lahan yang terdampak akan diverifikasi secara ketat agar penyaluran dukungan sarana produksi dan pemulihan usaha tani tepat sasaran serta efisien sesuai anggaran daerah.
Abner menegaskan bahwa menyelamatkan masa depan pangan di Papua Barat Daya memerlukan kerja sama lintas sektor, mulai dari pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, hingga para penyuluh di lapangan.
“Satu hal yang menjadi penting adalah kolaborasi menjadi kunci utama untuk menjaga ketahanan pangan kita. Sebagai pesan terakhir dari saya: menjaga produksi hari ini adalah langkah kita untuk melindungi pangan di masa depan,” pungkas Abner.
(Mel)




























