SORONG, MPN – Upaya memperkokoh fondasi kepemimpinan gereja yang berintegritas dan berwawasan luas terus didorong di Provinsi Papua Barat Daya. Melalui Christian Leadership Seminar, para pemimpin denominasi gereja tingkat nasional bersinergi dengan organisasi masyarakat (ormas) Kristen se-Papua Barat Daya untuk menyusun kerangka kepemimpinan yang relevan dengan tantangan masa kini.
Bertempat di Ballroom ACC Aimas Hotel pada Jumat (4/9/2026), kegiatan yang digagas oleh Persekutuan Gereja-gereja di Papua Indonesia (PGPI) Papua Barat Daya ini menghadirkan dua pembicara utama. Keduanya adalah Ketua PGPI Papua Barat Daya, Pdt. Yaved Tampani, SE, serta Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Papua Barat Daya, Ortis Fernando Sagrim, ST., M.Ak.
Seminar ini menjadi momentum strategis yang mempertemukan para hamba Tuhan, pimpinan berbagai denominasi gereja, dan perwakilan ormas Kristen. Agenda ini membawa misi besar untuk membangun kepemimpinan yang kokoh, berintegritas, visioner, serta mampu menjawab dinamika zaman yang terus berubah.
Dalam pemaparannya, Ketua DPR Papua Barat Daya, Ortis Fernando Sagrim, menegaskan bahwa esensi kepemimpinan sejati tidak terletak pada jabatan atau kekuasaan yang dimiliki, melainkan pada kerelaan melayani dan kemampuan memberi teladan.
“Seorang pemimpin bukan hanya dinilai dari jabatan yang dimilikinya, tetapi dari seberapa besar ia mampu melayani, memberi teladan, dan membawa perubahan bagi masyarakat. Gereja harus terus melahirkan pemimpin yang memiliki karakter, integritas, dan keberanian untuk menyuarakan kebenaran,” tegas Ortis.
Ia juga menekankan bahwa pembangunan di Provinsi Papua Barat Daya tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Seluruh elemen bangsa, termasuk gereja dan organisasi masyarakat Kristen, harus bersatu padu dalam semangat kolaborasi.
“Kita tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Papua Barat Daya membutuhkan persatuan, membutuhkan kolaborasi, dan membutuhkan pemimpin-pemimpin yang siap menghadapi tantangan masa depan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ortis memberikan apresiasi yang tinggi terhadap pelaksanaan seminar ini. Menurutnya, forum ini menjadi wadah strategis untuk memperkuat kapasitas para pemimpin gereja sekaligus mempersiapkan generasi penerus yang berkarakter.
“Ketika seorang pemimpin memiliki karakter yang kuat dan hati yang benar untuk melayani, maka dampaknya bukan hanya dirasakan oleh gereja, tetapi juga oleh masyarakat dan daerah,” pungkasnya.
Melalui forum ini, diharapkan tumbuh kesamaan visi dan langkah konkret antar-denominasi gereja maupun ormas Kristen di wilayah Papua Barat Daya. Christian Leadership Seminar bukan sekadar pertemuan seremonial, melainkan sebuah panggilan bersama untuk melahirkan generasi yang memiliki visi, karakter, keberanian, dan hati yang tulus untuk melayani demi kemajuan gereja, kesejahteraan masyarakat, serta masa depan Papua Barat Daya.
(Mel)





























