SORONG, MPN – Program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) mencatat volume perdagangan ikan mencapai 719 ton dengan nilai transaksi sebesar Rp18,77 miIiar. Capaian ini dibukukan dari 65 lokasi yang telah menjalani uji coba operasional sejak awal Juni 2026.
Keberhasilan di tingkat nasional tersebut kini menjadi salah satu referensi untuk mengembangkan kawasan perikanan di Kelurahan Suprau, Distrik Maladum Mes, Kota Sorong, Papua Barat Daya. Kawasan Suprau rencananya akan terhubung dengan sejumlah wilayah pesisir sekitarnya melalui sistem klaster.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat hasil perikanan dari lokasi KNMP tahap I telah berhasil dipasarkan ke sejumlah daerah, seperti Jakarta, Kendari, Medan, Surabaya, Bandar Lampung, Ternate, hingga Dompu. Bahkan, produk perikanan dari KNMP Margasari di Lampung dilaporkan telah menembus pasar ekspor ke China.
Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, menilai capaian tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah meningkatkan produktivitas masyarakat pesisir.
“KNMP memang dibangun untuk menghidupkan ekosistem perikanan dari hulu sampai hilir,” kata Trenggono dalam pemberitaan mengenai capaian perdagangan KNMP, Selasa (20/10/2026). Ia menambahkan, pengembangan program ini tidak hanya fokus pada produktivitas nelayan, melainkan juga pada pengolahan ikan menjadi produk bernilai tambah.
Meskipun angka transaksi nasional tersebut cukup besar, nilai Rp18,77 miliar merupakan akumulasi perdagangan ikan dari 65 lokasi, bukan keuntungan bersih nelayan dan bukan pula nilai transaksi yang dicapai KNMP Suprau. Namun, pengalaman operasional pada tahap I ini menjadi referensi penting dalam merancang sistem usaha perikanan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat pesisir Sorong.
Rencana Sistem Klaster di Kota Sorong
Pemerintah Kota Sorong sebelumnya telah membahas rencana pengembangan KNMP menggunakan sistem klaster yang mencakup Pulau Raam, Suprau, Boswesen, dan Doom Barat. Berdasarkan publikasi Pemkot Sorong pada 4 Maret 2026, fasilitas yang direncanakan meliputi tambatan perahu, pabrik es, gudang beku (cold storage), tempat pelelangan ikan (TPI), balai pelatihan nelayan, serta Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum Nelayan (SPBUN).
Melalui konsep pusat dan penyangga (hub and spoke), kawasan perikanan ini diharapkan dapat saling terhubung dalam proses pengumpulan, penanganan, penyimpanan, hingga distribusi hasil tangkapan. Sistem ini berpotensi membantu nelayan memperluas akses ke pembeli secara lebih efisien. Kendati demikian, efektivitas di lapangan akan sangat ditentukan oleh konektivitas antarlokasi, biaya logistik, ketersediaan pasokan, serta kepastian kemitraan dengan pedagang dan industri pengolahan.
(Mel)





























